Sabtu, 07 April 2012

PENGARUH TIDAK LANGSUNG LINGKUNGAN EKSTERNAL TERHADAP STRUKTUR ORGANISASI

PENGARUH TIDAK LANGSUNG LINGKUNGAN EKSTERNAL TERHADAP STRUKTUR ORGANISASI

Istilah lingkungan eksternal merujuk pada factor-faktor dan kekuatan yang berada di luar organisasi namun mempengaruhi konerja organisasi. Lingkungan eksterrnal memiliki dua komponen : lingkungan spesifik dan lingkungan umum.
a. Lingkungan spesifik
Meliputi kekuatan eksternal yang secara langsung mempengaruhi keputusan dan tindakan para manajer dan secara langsung relevan dengan pencapaian sasaran organisasi. Kekuatan utama yang membentuk lingkungan spesifik adalah pelanggan, pemasok, pesaing, dan kelompok kepentingan masyarakat.
b. Lingkungan umum
Meliputi kondisi-kondisi ekonomi, politik dan hokum, social-budaya, demografis, teknologi, dan global secara luas.
Lingkungan yang berada di sekitar organisasi kondisinya berbeda-beda. Untuk itu suatu organisa perlu mengenal lingkungannya untuk kemudian menyesuaikan dengan struktur organisasi yang dibentuk. Terdapat dua jenis lingkungan eksternal yang secara umum mempengaruhi organisasi.
Bila komponen suatu organisasi , kita dapat menyebutnya dengan lingkungan dinamis. Lingkungan yang dinamis biasanya dihadapi oleh industry music. Berbagai kemunculan situs downloading telah membuat industry music kewalahan dalam mempertahankan omzetnya. Komponen yang kedua, bila lingkungan hampir tidak pernah berubah, maka kita dapat menyebutnya dengan lingkungan stabil. Lingkungan stabil terjadi jika dalam suatu perusahaan tidak terdapat pesaing, kalaupun ada tidak terjadi persaingan yang berarti. Contoh perusahaan dengan lingkungan stabil adalah perusahaan korek gas Zippo. Terdapat beberapa pesaing saja dan sedikit sekali terobosan teknologi di lingkungannya.
Keberadaan struktur organisasi diperlukan untuk menghadapi peluang dan ancaman dari lingkungan organisasi sendiri. Akan tetapi, tidak semua bentuk struktur organisasi sesuai dengan kondisi lingkungan eksternalnya.

Dari table di atas, dapat diketahui jika lingkungan eksternal mempengaruhi struktur organisasi. Struktur organisasi sederhana sesuai dengan lingkungan organisasi yang sederhana dan perubahan lingkungan relatif dinamis. Struktur organisasi fungsional sesuai dengan lingkungan organisasi yang sederhana dan relatif stabil. Struktur organisasi divisional sesuai dengan lingkungan organisasi yang relatif kompleks tetapi dengan tingkat perubahan relatif kecil (stabil). Sedangkan struktur organisasi Matriks / Tim / Networks sesuai dengan lingkungan organisasi yang kompleks dan tingkat perubahan yang dinamis.
Bagaimana lingkungan eksternal secara tidak langsung mempengaruhi struktur organisasi ?
a. Struktur matriks dipengaruhi oleh pelanggan
Sebuah organisasi ada untuk melayani kebutuhan para pelanggan yang menggunakan output organisasi tersebut. Para pelanggan merupakan salah satu sumber ketidakpastian bagi organisasi, karena selera mereka dapat berubah. Untuk itu, perusahaan biasanya menerapkan struktur organisasi matriks. Berikut ini adalah struktur organisasi PT Indofood Sukses Makmur.



b. Struktur divisional dipengaruhi oleh pesaing
Jika suatu organisasi memiliki sedikit pesaing, atau dengan kata lain lingkungan ekstrnalnya bersifat stabil, maka secara tidak langsung struktur organisasi akan mengacu pada arah divisional, atau mengarah pada divisi-divisi tertentu.
Struktur organisasi yang diterapkan pada PT. DMK Cargo :



Jabatan Manajer ditentukan sesuai kebutuhan divisional, oleh sebab itu struktur organisasi PT. DMK hanya dibagi menjadi 3 divisi dengan 3 manajer, yaitu Manajer Operasional, Manajer Keuangan dan Manajer Pemasaran. Manajer Operasional membawahi divisi Outgoing ( pengiriman barang ), divisi Incoming ( penerimaan barang ), dan divisi administrasi dokumen. Setiap divisi dibawah naungan manajer operasional memiliki karyawan first liner masing – masing. Manajer Keuangan membawahi 3 orang karyawan, yaitu petugas kasir, petugas penagihan dan petugas accounting. Sedangkan Manajer Pemasaran dalam struktur yang digambarkan tidak memiliki bawahan, hal tersebut dikarenakan fungsi bawahan tidak terlalu optimal jika diadakan. Sebagai ganti fungsi tersebut, bidang pemasaran juga dibantu oleh direktur. Divisi HRD tidak digambarkan dalam struktur organisasi yang ada diatas, karena pada aktualnya, fungsi divisi ini telah dilakukan oleh direktur yang dibantu oleh para manajer. Sehingga dalam proses seperti rekruitmen karyawan, penilaian dan evaluasi kinerja wewenang dipegang oleh direktur dengan mempertimbangkan masukan dari karyawan. (http://www.dmkcargo.com/content.php?page=6)

c. Struktur fungsional dipengaruhi oleh kondisi politik/hokum
Hokum dan peraturan nasional serta daerah, di samping huku internasioanl, juga mempengaruhi apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh suatu organisasi. Sebagai contoh, peraturan yang mengatur perguruan tinggi dan organisasinya, yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.60 tahun 1999.


Gambar diatas adalah struktur organisaasi fungsional yang ditetapkan oleh fakultas pertanian UGM.


(http://tp.ugm.ac.id/site/index.php?option=com_content&view=article&id=74&Itemid=145)

d. Struktur organisasi sederhana dipengaruhi oleh pemasok
Suatu organisasi dengan keberadaan pemasok yang sudah selalu ada atau berlangganan, dan komponen dalam organisasi tersebut tidak begitu beragam walaupun berubah. Maka organisasi tersebut biasanya akan menerapkan struktur organisasi sederhana saja.
Struktur organisaaasi dengan tipe sederhana biasanya dipakai oleh perusahaan konstruksi yang bergerak dalam bidang pembangunan infrastruktur. Perusahaan konstruksi biasanya memiliki pemasok tetap untuk kebutuhan mereka seperti pemasok semen, pasir, batu, cat, dan lain sebagainya. Barang-barang yang dipasok cenderung tetap, kalaupun berubah perubahan itu terletak pada jenisnya, dan hal itu ditanggung oleh pemasok.
Contoh perusahaan konstruksi dengan struktur organisasi sederhana :



http://www.tirtomili.com/tentang-kami/struktur-organisasi/
PT Tirto Mili adalah sebuah perusahaan konstruksi yang biasa bekerja sama dengan pemerintah dan membangun beberapa perumahan dengan harga terjangkau. Dapat kita lihat, struktur organisasi yang mereka gunakan sederhana, hanay melibatkan beberapa orang saja. Itupun hanya menyangkut mekanisme penanganan pembuatan konstruksi dan pengadaan bahan baku.

REFERENSI :
Stephen P. Robbins& Marry Coulter, Manajemen (Edisi Kesepuluh, Jilid1), Jakarta:Penerbit Erlangga, 2010.
http://www.dikti.go.id/Archive2007/pp_60_th_1999.htm

Jumat, 02 Desember 2011

Pengaruh Stratifikasi Sosial terhadap Konflik Sosial

PENGARUH STRATIFIKASI SOSIAL TERHADAP KONFLIK SOSIAL

A. KONSEP STRATIFIKASI SOSIAL
Dalam semua masyarakat kita menjumpai ketidaksamaan dalam berbagai bidang. Kitapun mengetahui bahwa anggotta masyarakat dibeda-bedakan berdasar beberapa criteria, misalnya berdasarkan kekayaan, atau kedudukannya dalam masyarakat. Pembedaan anggota masyarakat berdasar status yang dimilikinya dinamakan stratifikasi social.
Dalam sosiologi kita mengenal pembedaan antara stratifikasi tertutup dan stratifikasi terbuka. Keterbukaan suatu system stratifikasi diukur dari mudah-tidaknya dan sering-tidaknya seseorang yang memiliki status tertentu memperoleh status lain dalam strata lebih tinggi.
Moore dan Davis mengemukakan stratifikasi dibutuhkan demi kelangsungan hidup manusia. Dalam masyarakat terdapat status yang harus ditempati agar masyarakat dapat berlangsung. Anggota masyarakat perlu diberi rangsangan agar mau menempati status tersebut. Semakin penting status tersebut maka semakin sedikit anggota masyarakat yang dapat menempatinya, dan semakin pula penghargaan dari massyarakat.
Sejumlah ahli sosiologi melihat bahwa stratifikasi timbul karena dalam masyarakat berkembang pembagian kerja yang memungkinkan perbedaan kekayaan, kekuasaan, dan prestise. Kekayaan, kekuasaan, dan prestise tersebut jumlahnya sangat ternatas sehngga persaingan dibutuhkan untuk mendudukinya. Hal inilah yang kemudian tidak sedikit yang mengacu ada terjadinya konflik.

B. KRITERIA STRATIFIKASI SOSIAL
Menurut Weber, para anggota masyarakat dapat dipilah secara vertikal berdasarkan atas ukuran-ukuran kehormatan, sehingga ada orang-orang yang dihormati dan disegani dan orang-orang yang dianggap biasa-biasa saja, atau orang kebanyakan, atau bahkan orang-orang yang dianggap hina. Orang-orang yang dihormati atau disegani pada umumnya adalah mereka yang memiliki jabatan atau profesi tertentu, keturunan bangsawan atau orang-orang terhormat, atau berpendidikan tinggi.
Ukuran-ukuran penempatan anggota masyarakat dalam stratifikasi sosial yang dapat dikategorikan sebagai kriteria sosial antara lain, (1) profesi, (2) pekerjaan, (3) tingkat pendidikan, (4) keturunan, dan (5) kasta. Kriteria ekonomi yang digunakan sebagai dasar stratifikasi sosial dapat meliputi penghasilan dan pemilikan atau kekayaan. Ukuran yang digunakan untuk memilah masyarakat atas dasar dimensi atau kriteria politik adalah distribusi kekuasaan. Kekuasaan (power) berbeda dengan kewenangan (otoritas). Seseorang yang berkuasa tidak selalu memiliki kewenangan.

C. PENGARUH STRATIFIKASI SOSIAL TERHADAP KONFLIK
Adanya stratifikasi social dalam masyarakat erat kaitannya dengan terjadinya konflik karena masing-masing dari elemen masyarakat berusaha untuk menemati status tertentu dengan segala cara. Konflik kekuasan merupakan konflik yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.
Yang dimaksud kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi individu-individu lain dalam masyarakat, termasuk mempengaruhi pembuatan keputusan kolektif. Sedangkan wewenang adalah hak untuk berkuasa. Apa yang terjadi apabila orang mempunyai wewenang tetapi tidak memiliki kekuasaan? Mana yang lebih efektif, orang mempunyai kekuasaan saja, atau wewenang saja?
Meskipun seseorang memiliki hak untuk berkuasa, artinya ia memiliki wewenang, tetapi kalau dalam dirinya tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain, maka ia tidak akan dapat melaksanakan hak itu dengan baik. Sebaliknya, apabila seseorang memiliki kemampuan mempengaruhi pihak lain, meskipun ia tidak punya wewenang untuk itu, pengaruh itu dapat berjalan secara efektif. Untuk lebih memahami hal ini, dapat diperhatikan pengaruh tokoh masyarakat, seperti seorang tokoh agama atau orang yang dituakan dalam masyarakat.
Terjadinya konflik antara warga Papua denga PT Freeport merupakan salah satu contoh nyata dari penjabaran di atas. Menurut Adnan Buyung Nasution, konflik yang terjadi di Papua merupakan konflik warisan masa lalu. Kontrak karya yang terjadi antara pemerintah dengan PT Freeport pada tahun 70-an adalah pemicunya. Tetapi sayangnya, orang-orang “pintar” yang dikirim ke Papua bukanlah orang yang semestinya karena justru melakukan korupsi disana. Selain itu, orang-orang dari pemerintah memperlakukan warga Papua sebagai orang kelas nomor dua.
Hal ini berimbas pada perasaan dianak-tirikan yang melanda orang Papua. Menurut Adnan Buyung Nasution, orang dari pemerintah pusat yang mengurusi Freeport memiliki perasaan yang superior. Tidak merasa warga Papua sebagai anak bangsa Indonesia juga.
Kenyataan yang terjadi di Papua sesuai dengan teori Vilfredo Pareto, Gaetano Mosca, dan Robert Michels bahwa yang mendasari konflik politik dalam stratifikasi social adalah adanya orang-orang yang memiliki kekuasaan dan orang-orang yang dikuasai. Warga Papua yang pendidikannya masih rendah diperlakukan tidak semestinya oleh oknum-oknum pemertintahan yang ditunjuk untuk mengurus PT Freeport.
Vilfredo Pareto,Gretano Mosca, dan Robert Michels juga menjelaskan jika pendistribusian politik juga mendasari konflik politik dalam stratifikasi social. Di Papua, orang-orang asli Papua justru menjadi pekerja di PT Freeport sementara yang mengelola PT itu adalah warga asing dan orang-orang yang ditunjuk lainnya.
Sudah beradab-abad menjadi pemikiran dalam dalil politik, bahwa kekuasaan dalam masyarakat selalu terdistribusikan tidak merata. Gaetano Mosca (1939) menyatakan bahwa dalam setiap masyarakat selalu terdapat dua kelas penduduk: satu kelas yang menguasai dan satu kelas yang dikuasai. Kelas pertama yang jumlahnya lebih kecil, menjalankan semua fungsi politik, memonopoli kekuasaan dan menikmati keuntungan yang diberikan oleh kekuasaan itu, sedangkan kelas kedua, yang jumlahnya lebih besar, diatur dan dikendalikan oleh kelas pertama itu. Sangat sesuai dengan peristiwa di Papua baru-baru ini.
D. REFERENSI
1. Prof. Dr. Kamanto Sunarto , Pengantar Sosiologi, Lembaga Penerbit FEUI, 2004.
2. http://www.pelitaonline.com/read-nusantara/9590/kesenjangan-ekonomi-juga-jadi-pemicu-bentrok-papua/
3. http://agsasman3yk.wordpress.com/2009/07/14/struktur-sosial/
4. http://berita.liputan6.com/read/361320/konflik-papua-warisan-persoalan-masa-lalu
5. ISIP4110.Pengantar Sosiologi.

Jumat, 09 September 2011

perpisahan

kembali lagi kita tak bersama
demi masa depan dan asa
saatnya menghitung langkah hingga saat berpisah tiba
dan sampai kapanpun, hari esok itu akan menyapa kita

memang berat.
tapi tidak berguna air mata
hingga kini aku masih mencoba menumbuhkan harapan,
jika pertemuan dan perpisahan kita tidaklah sia-sia

inginlah maaf ini terucap,
ketika waktu menyadarkanku
(saat aku benar-benar menyakitimu)
dan angin lalu berkata dingin engkau akan selalu disini

Sabtu, 27 Agustus 2011

Pahit dalam Manis, Manis dalam Lumpur

Sangat ingin seperti dulu lagi, keika kekuatan dariku sendiri yang membuatku hidup hingga detik itu. Teringat ketika aku menjadi wanita kecil yang begitu mandiri, yang mau berusaha untuk dunianya. Tanpa menggantungkan perasaan pada makhluk lain yang disebut laki-laki. Menjadikanku semakin lemah saja. Ibarat dulu aku matahari keecil, kini aku hanya sebuah bulan. Yang menunggu matahari membiaskan sinarnya hingga senyum bulan terlihat.
Bagiku laki-laki adalah surga untuk neraka, dan neraka di dalam surge. Begitu banyak menjanjikan, padahal dasarnya mereka sendiri lupa jika hidup merekapun dibawa oleh takdir. Menguatkan tetapi dari satu sisi melumpuhkan. Aku tidak tahu mengapa aku mengatakan hal seperti ini, yang aku tahu, aku sebenarnya telah sadar walaupun belum sepenuhnya. Bagaimanapun kejadiannya, aku harus sabar menunggu laki-laki dari Tuhan, penjelmaan malaikat-Nya. Bukan seperti ini.
Keinginanku hanya terbebas dari dua konskuensi ini. Kembali padda Tuhanku dan meninggalkan seseorang yang mencari Nya, atau tetap mendampingi hidupnya. Bagiku adalah pilihan yang sangat sulit dengan segala argument yang terlontar. Dan disini jiwa pengecut menjijikkanku muncul, susatu saat aku tidak ingin dilahirkan. –hanya- karena permasalahan ini. Aku mengetahui cinta yang hakiki, tetapi kenyataan berkata aku telah bersama seseorang yang mencintai. Bagaimana bias aku memilih dengan waktu secepat membalikkan telapak tangan ?
Tapi inilah hidup, mengandung jutaan milyar pilihan. Dengan ribuan garis besar : Ribuan milyar pilihan demi SATU tujuan. Bahagia selamanya. Jujur kali ini aku herdan dengan kenyataan seperti ini. Tidak adil, tetapi menantang. Dan aku menghibur diri dengan berkata : Hidup ini tidak seperti menjawab soal THB, tetapi seperti menjawab dimana timur dimana barat.

Ada Manis dalam Pahit

Sangat ingin seperti dulu lagi, keika kekuatan dariku sendiri yang membuatku hidup hingga detik itu. Teringat ketika aku menjadi wanita kecil yang begitu mandiri, yang mau berusaha untuk dunianya. Tanpa menggantungkan perasaan pada makhluk lain yang disebut laki-laki. Menjadikanku semakin lemah saja. Ibarat dulu aku matahari keecil, kini aku hanya sebuah bulan. Yang menunggu matahari membiaskan sinarnya hingga senyum bulan terlihat.
Bagiku laki-laki adalah surga untuk neraka, dan neraka di dalam surge. Begitu banyak menjanjikan, padahal dasarnya mereka sendiri lupa jika hidup merekapun dibawa oleh takdir. Menguatkan tetapi dari satu sisi melumpuhkan. Aku tidak tahu mengapa aku mengatakan hal seperti ini, yang aku tahu, aku sebenarnya telah sadar walaupun belum sepenuhnya. Bagaimanapun kejadiannya, aku harus sabar menunggu laki-laki dari Tuhan, penjelmaan malaikat-Nya. Bukan seperti ini.
Keinginanku hanya terbebas dari dua konskuensi ini. Kembali padda Tuhanku dan meninggalkan seseorang yang mencari Nya, atau tetap mendampingi hidupnya. Bagiku adalah pilihan yang sangat sulit dengan segala argument yang terlontar. Dan disini jiwa pengecut menjijikkanku muncul, susatu saat aku tidak ingin dilahirkan. –hanya- karena permasalahan ini. Aku mengetahui cinta yang hakiki, tetapi kenyataan berkata aku telah bersama seseorang yang mencintai. Bagaimana bias aku memilih dengan waktu secepat membalikkan telapak tangan ?
Tapi inilah hidup, mengandung jutaan milyar pilihan. Dengan ribuan garis besar : Ribuan milyar pilihan demi SATU tujuan. Bahagia selamanya. Jujur kali ini aku herdan dengan kenyataan seperti ini. Tidak adil, tetapi menantang. Dan aku menghibur diri dengan berkata : Hidup ini tidak seperti menjawab soal THB, tetapi seperti menjawab dimana timur dimana barat.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Takdir

Agustus 2011 ..

Sudah saatnya memaknai segala yang melebihi takdir. Mencari arti segala.
Saat aku berkata tidak, utusan takdir mengatakan lain
mengharuskan aku menjalani jalinan yang aku tak mengerti
Begitu mendilema, terhanyut, meresapi kesakitan yang nyata.
Hingga ahirnya aku berkata. Aku tidak bisa melawan takdir.

Minggu, 24 Juli 2011

Cantiknya Indonesia

Dulu waktu kecil saya punya bayangen sendiri tentang Indonesia, waktu itu, saya rasa Indonesia adalah tempat kecil yang disitu terdapat berbagai macam jajanan yang enak dan murah, alias uang saku saya mampu mendapakannya, lalu saya juga beranggapan orang-orang Indonesia adalah mereka yang ramah-ramah dan jujur –stigma ini dipengaruhi laguny Trio Kwek-Kwek- dan selalu mengijinkan orang lain untuk bersenang-senang bersamanya. Waktu kecil pula, saya tidak pernah membayangkan bagaimana saya sebagai anak perempuan ternyata dituntut menjadi cantik sebagai warga Negara Indonesia. Seperti sekarang ini, saya sudah punya kesan berbeda lagi buat Indonesia. Saya ini sedang nyuwung di rumah berhari-hari, dan selama berhari-hari itu pula saya menonton TV setiap hari, dan dari iklan-iklan TV, saya punya pikiran, sekarang ini syarat menjadi warga Negara Indonesia sudah bertambah sepertinya, kurang disahkan saja sebagai Undang-Undang. Syarat ini kususnya buat mereka yang berkelamin perempuan. Kalau tinggal di Indonesia perempuan itu harus cantik dan seksi, putih, tinggi, berambut lurus, ber alis indah, berbibir penuh –dan merah-. Karena menurut aturan ini, wanita Indonesia diciptakan untuk mendapatkan –banyak- penggemar. Sekali lagi –banyak- penggemar-. Lawan jens tentunya.
Seperti itu yang saya tangkap sebagai wanita Indonesia. Di sini kita harus berkompetisi, untuk mendapat perhatian laki-laki dengan kesempurnaan kita. Karena di sini definisi cantik telah berbeda. Mereka yang cantik adalah –sudah saya sebutkan tadi di atas- , dan dapat dengan mudah gonta-ganti pasangan. Cantik tidak lagi dipandang sebagai inner beauty yang mencerminkan ketulusan hati pelakunya. Padahal saya sendiri telah berusaha tidak –ikut- mengaburkan definisi cantik, tapi saya akui sedikit banyak saya juga termakan dengan berbagai bombardier media mengenai definisi cantik. Sebenarnya saya sangat ingin tahu bagaimana pendapat kaum Adam sendiri soal cantik –kususnya- untuk wanita Indonesia. Jika jawaban mereka sama dengan persyaratan cantik yang kini banyak dijadikan pedoman para wanita, maka sudah saatnya syarat menjadi warga Negara Indonesia ditambah satu. Dan RUU kecantikan segera disahkan.
Memang pembicaraan saya ini kacau, kalau ada seorang pengamat dan penulis yang membaca ini, saya yakin, pasti saya langsung ditendang dengan kata-kata pedasmereka. Pasti saya dibilang sok kritis, sok mengkritik , ikut-ikutan bikin perkara. Tapi saya tidak akan mendengarkan, karena saat ini saya sedang menyuarakan suara hati saya yang kacau, dan tuntutan otak saya yang sedikit bergeser. Benar- benar saya ingin, cantik disamakan dengan kejujuran. Nilailah kecantikan seorang wanita dengan jujur, lihatlah dengan ata hati, dan rasakan dengan pikiran sehat, yang tentu bukan nafsu memiliki, tapi mengagumi. Oh iya, saya menulis ini bukan karena saya tidak cantik, tapi saya punya alasan lain.
Ayolah… Saya tidak suka jika citra wanita seperti ini 

Galau-gila,7/23/2011
12.13 pm