Jumat, 02 Desember 2011

Pengaruh Stratifikasi Sosial terhadap Konflik Sosial

PENGARUH STRATIFIKASI SOSIAL TERHADAP KONFLIK SOSIAL

A. KONSEP STRATIFIKASI SOSIAL
Dalam semua masyarakat kita menjumpai ketidaksamaan dalam berbagai bidang. Kitapun mengetahui bahwa anggotta masyarakat dibeda-bedakan berdasar beberapa criteria, misalnya berdasarkan kekayaan, atau kedudukannya dalam masyarakat. Pembedaan anggota masyarakat berdasar status yang dimilikinya dinamakan stratifikasi social.
Dalam sosiologi kita mengenal pembedaan antara stratifikasi tertutup dan stratifikasi terbuka. Keterbukaan suatu system stratifikasi diukur dari mudah-tidaknya dan sering-tidaknya seseorang yang memiliki status tertentu memperoleh status lain dalam strata lebih tinggi.
Moore dan Davis mengemukakan stratifikasi dibutuhkan demi kelangsungan hidup manusia. Dalam masyarakat terdapat status yang harus ditempati agar masyarakat dapat berlangsung. Anggota masyarakat perlu diberi rangsangan agar mau menempati status tersebut. Semakin penting status tersebut maka semakin sedikit anggota masyarakat yang dapat menempatinya, dan semakin pula penghargaan dari massyarakat.
Sejumlah ahli sosiologi melihat bahwa stratifikasi timbul karena dalam masyarakat berkembang pembagian kerja yang memungkinkan perbedaan kekayaan, kekuasaan, dan prestise. Kekayaan, kekuasaan, dan prestise tersebut jumlahnya sangat ternatas sehngga persaingan dibutuhkan untuk mendudukinya. Hal inilah yang kemudian tidak sedikit yang mengacu ada terjadinya konflik.

B. KRITERIA STRATIFIKASI SOSIAL
Menurut Weber, para anggota masyarakat dapat dipilah secara vertikal berdasarkan atas ukuran-ukuran kehormatan, sehingga ada orang-orang yang dihormati dan disegani dan orang-orang yang dianggap biasa-biasa saja, atau orang kebanyakan, atau bahkan orang-orang yang dianggap hina. Orang-orang yang dihormati atau disegani pada umumnya adalah mereka yang memiliki jabatan atau profesi tertentu, keturunan bangsawan atau orang-orang terhormat, atau berpendidikan tinggi.
Ukuran-ukuran penempatan anggota masyarakat dalam stratifikasi sosial yang dapat dikategorikan sebagai kriteria sosial antara lain, (1) profesi, (2) pekerjaan, (3) tingkat pendidikan, (4) keturunan, dan (5) kasta. Kriteria ekonomi yang digunakan sebagai dasar stratifikasi sosial dapat meliputi penghasilan dan pemilikan atau kekayaan. Ukuran yang digunakan untuk memilah masyarakat atas dasar dimensi atau kriteria politik adalah distribusi kekuasaan. Kekuasaan (power) berbeda dengan kewenangan (otoritas). Seseorang yang berkuasa tidak selalu memiliki kewenangan.

C. PENGARUH STRATIFIKASI SOSIAL TERHADAP KONFLIK
Adanya stratifikasi social dalam masyarakat erat kaitannya dengan terjadinya konflik karena masing-masing dari elemen masyarakat berusaha untuk menemati status tertentu dengan segala cara. Konflik kekuasan merupakan konflik yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.
Yang dimaksud kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi individu-individu lain dalam masyarakat, termasuk mempengaruhi pembuatan keputusan kolektif. Sedangkan wewenang adalah hak untuk berkuasa. Apa yang terjadi apabila orang mempunyai wewenang tetapi tidak memiliki kekuasaan? Mana yang lebih efektif, orang mempunyai kekuasaan saja, atau wewenang saja?
Meskipun seseorang memiliki hak untuk berkuasa, artinya ia memiliki wewenang, tetapi kalau dalam dirinya tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain, maka ia tidak akan dapat melaksanakan hak itu dengan baik. Sebaliknya, apabila seseorang memiliki kemampuan mempengaruhi pihak lain, meskipun ia tidak punya wewenang untuk itu, pengaruh itu dapat berjalan secara efektif. Untuk lebih memahami hal ini, dapat diperhatikan pengaruh tokoh masyarakat, seperti seorang tokoh agama atau orang yang dituakan dalam masyarakat.
Terjadinya konflik antara warga Papua denga PT Freeport merupakan salah satu contoh nyata dari penjabaran di atas. Menurut Adnan Buyung Nasution, konflik yang terjadi di Papua merupakan konflik warisan masa lalu. Kontrak karya yang terjadi antara pemerintah dengan PT Freeport pada tahun 70-an adalah pemicunya. Tetapi sayangnya, orang-orang “pintar” yang dikirim ke Papua bukanlah orang yang semestinya karena justru melakukan korupsi disana. Selain itu, orang-orang dari pemerintah memperlakukan warga Papua sebagai orang kelas nomor dua.
Hal ini berimbas pada perasaan dianak-tirikan yang melanda orang Papua. Menurut Adnan Buyung Nasution, orang dari pemerintah pusat yang mengurusi Freeport memiliki perasaan yang superior. Tidak merasa warga Papua sebagai anak bangsa Indonesia juga.
Kenyataan yang terjadi di Papua sesuai dengan teori Vilfredo Pareto, Gaetano Mosca, dan Robert Michels bahwa yang mendasari konflik politik dalam stratifikasi social adalah adanya orang-orang yang memiliki kekuasaan dan orang-orang yang dikuasai. Warga Papua yang pendidikannya masih rendah diperlakukan tidak semestinya oleh oknum-oknum pemertintahan yang ditunjuk untuk mengurus PT Freeport.
Vilfredo Pareto,Gretano Mosca, dan Robert Michels juga menjelaskan jika pendistribusian politik juga mendasari konflik politik dalam stratifikasi social. Di Papua, orang-orang asli Papua justru menjadi pekerja di PT Freeport sementara yang mengelola PT itu adalah warga asing dan orang-orang yang ditunjuk lainnya.
Sudah beradab-abad menjadi pemikiran dalam dalil politik, bahwa kekuasaan dalam masyarakat selalu terdistribusikan tidak merata. Gaetano Mosca (1939) menyatakan bahwa dalam setiap masyarakat selalu terdapat dua kelas penduduk: satu kelas yang menguasai dan satu kelas yang dikuasai. Kelas pertama yang jumlahnya lebih kecil, menjalankan semua fungsi politik, memonopoli kekuasaan dan menikmati keuntungan yang diberikan oleh kekuasaan itu, sedangkan kelas kedua, yang jumlahnya lebih besar, diatur dan dikendalikan oleh kelas pertama itu. Sangat sesuai dengan peristiwa di Papua baru-baru ini.
D. REFERENSI
1. Prof. Dr. Kamanto Sunarto , Pengantar Sosiologi, Lembaga Penerbit FEUI, 2004.
2. http://www.pelitaonline.com/read-nusantara/9590/kesenjangan-ekonomi-juga-jadi-pemicu-bentrok-papua/
3. http://agsasman3yk.wordpress.com/2009/07/14/struktur-sosial/
4. http://berita.liputan6.com/read/361320/konflik-papua-warisan-persoalan-masa-lalu
5. ISIP4110.Pengantar Sosiologi.

Jumat, 09 September 2011

perpisahan

kembali lagi kita tak bersama
demi masa depan dan asa
saatnya menghitung langkah hingga saat berpisah tiba
dan sampai kapanpun, hari esok itu akan menyapa kita

memang berat.
tapi tidak berguna air mata
hingga kini aku masih mencoba menumbuhkan harapan,
jika pertemuan dan perpisahan kita tidaklah sia-sia

inginlah maaf ini terucap,
ketika waktu menyadarkanku
(saat aku benar-benar menyakitimu)
dan angin lalu berkata dingin engkau akan selalu disini

Sabtu, 27 Agustus 2011

Pahit dalam Manis, Manis dalam Lumpur

Sangat ingin seperti dulu lagi, keika kekuatan dariku sendiri yang membuatku hidup hingga detik itu. Teringat ketika aku menjadi wanita kecil yang begitu mandiri, yang mau berusaha untuk dunianya. Tanpa menggantungkan perasaan pada makhluk lain yang disebut laki-laki. Menjadikanku semakin lemah saja. Ibarat dulu aku matahari keecil, kini aku hanya sebuah bulan. Yang menunggu matahari membiaskan sinarnya hingga senyum bulan terlihat.
Bagiku laki-laki adalah surga untuk neraka, dan neraka di dalam surge. Begitu banyak menjanjikan, padahal dasarnya mereka sendiri lupa jika hidup merekapun dibawa oleh takdir. Menguatkan tetapi dari satu sisi melumpuhkan. Aku tidak tahu mengapa aku mengatakan hal seperti ini, yang aku tahu, aku sebenarnya telah sadar walaupun belum sepenuhnya. Bagaimanapun kejadiannya, aku harus sabar menunggu laki-laki dari Tuhan, penjelmaan malaikat-Nya. Bukan seperti ini.
Keinginanku hanya terbebas dari dua konskuensi ini. Kembali padda Tuhanku dan meninggalkan seseorang yang mencari Nya, atau tetap mendampingi hidupnya. Bagiku adalah pilihan yang sangat sulit dengan segala argument yang terlontar. Dan disini jiwa pengecut menjijikkanku muncul, susatu saat aku tidak ingin dilahirkan. –hanya- karena permasalahan ini. Aku mengetahui cinta yang hakiki, tetapi kenyataan berkata aku telah bersama seseorang yang mencintai. Bagaimana bias aku memilih dengan waktu secepat membalikkan telapak tangan ?
Tapi inilah hidup, mengandung jutaan milyar pilihan. Dengan ribuan garis besar : Ribuan milyar pilihan demi SATU tujuan. Bahagia selamanya. Jujur kali ini aku herdan dengan kenyataan seperti ini. Tidak adil, tetapi menantang. Dan aku menghibur diri dengan berkata : Hidup ini tidak seperti menjawab soal THB, tetapi seperti menjawab dimana timur dimana barat.

Ada Manis dalam Pahit

Sangat ingin seperti dulu lagi, keika kekuatan dariku sendiri yang membuatku hidup hingga detik itu. Teringat ketika aku menjadi wanita kecil yang begitu mandiri, yang mau berusaha untuk dunianya. Tanpa menggantungkan perasaan pada makhluk lain yang disebut laki-laki. Menjadikanku semakin lemah saja. Ibarat dulu aku matahari keecil, kini aku hanya sebuah bulan. Yang menunggu matahari membiaskan sinarnya hingga senyum bulan terlihat.
Bagiku laki-laki adalah surga untuk neraka, dan neraka di dalam surge. Begitu banyak menjanjikan, padahal dasarnya mereka sendiri lupa jika hidup merekapun dibawa oleh takdir. Menguatkan tetapi dari satu sisi melumpuhkan. Aku tidak tahu mengapa aku mengatakan hal seperti ini, yang aku tahu, aku sebenarnya telah sadar walaupun belum sepenuhnya. Bagaimanapun kejadiannya, aku harus sabar menunggu laki-laki dari Tuhan, penjelmaan malaikat-Nya. Bukan seperti ini.
Keinginanku hanya terbebas dari dua konskuensi ini. Kembali padda Tuhanku dan meninggalkan seseorang yang mencari Nya, atau tetap mendampingi hidupnya. Bagiku adalah pilihan yang sangat sulit dengan segala argument yang terlontar. Dan disini jiwa pengecut menjijikkanku muncul, susatu saat aku tidak ingin dilahirkan. –hanya- karena permasalahan ini. Aku mengetahui cinta yang hakiki, tetapi kenyataan berkata aku telah bersama seseorang yang mencintai. Bagaimana bias aku memilih dengan waktu secepat membalikkan telapak tangan ?
Tapi inilah hidup, mengandung jutaan milyar pilihan. Dengan ribuan garis besar : Ribuan milyar pilihan demi SATU tujuan. Bahagia selamanya. Jujur kali ini aku herdan dengan kenyataan seperti ini. Tidak adil, tetapi menantang. Dan aku menghibur diri dengan berkata : Hidup ini tidak seperti menjawab soal THB, tetapi seperti menjawab dimana timur dimana barat.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Takdir

Agustus 2011 ..

Sudah saatnya memaknai segala yang melebihi takdir. Mencari arti segala.
Saat aku berkata tidak, utusan takdir mengatakan lain
mengharuskan aku menjalani jalinan yang aku tak mengerti
Begitu mendilema, terhanyut, meresapi kesakitan yang nyata.
Hingga ahirnya aku berkata. Aku tidak bisa melawan takdir.

Minggu, 24 Juli 2011

Cantiknya Indonesia

Dulu waktu kecil saya punya bayangen sendiri tentang Indonesia, waktu itu, saya rasa Indonesia adalah tempat kecil yang disitu terdapat berbagai macam jajanan yang enak dan murah, alias uang saku saya mampu mendapakannya, lalu saya juga beranggapan orang-orang Indonesia adalah mereka yang ramah-ramah dan jujur –stigma ini dipengaruhi laguny Trio Kwek-Kwek- dan selalu mengijinkan orang lain untuk bersenang-senang bersamanya. Waktu kecil pula, saya tidak pernah membayangkan bagaimana saya sebagai anak perempuan ternyata dituntut menjadi cantik sebagai warga Negara Indonesia. Seperti sekarang ini, saya sudah punya kesan berbeda lagi buat Indonesia. Saya ini sedang nyuwung di rumah berhari-hari, dan selama berhari-hari itu pula saya menonton TV setiap hari, dan dari iklan-iklan TV, saya punya pikiran, sekarang ini syarat menjadi warga Negara Indonesia sudah bertambah sepertinya, kurang disahkan saja sebagai Undang-Undang. Syarat ini kususnya buat mereka yang berkelamin perempuan. Kalau tinggal di Indonesia perempuan itu harus cantik dan seksi, putih, tinggi, berambut lurus, ber alis indah, berbibir penuh –dan merah-. Karena menurut aturan ini, wanita Indonesia diciptakan untuk mendapatkan –banyak- penggemar. Sekali lagi –banyak- penggemar-. Lawan jens tentunya.
Seperti itu yang saya tangkap sebagai wanita Indonesia. Di sini kita harus berkompetisi, untuk mendapat perhatian laki-laki dengan kesempurnaan kita. Karena di sini definisi cantik telah berbeda. Mereka yang cantik adalah –sudah saya sebutkan tadi di atas- , dan dapat dengan mudah gonta-ganti pasangan. Cantik tidak lagi dipandang sebagai inner beauty yang mencerminkan ketulusan hati pelakunya. Padahal saya sendiri telah berusaha tidak –ikut- mengaburkan definisi cantik, tapi saya akui sedikit banyak saya juga termakan dengan berbagai bombardier media mengenai definisi cantik. Sebenarnya saya sangat ingin tahu bagaimana pendapat kaum Adam sendiri soal cantik –kususnya- untuk wanita Indonesia. Jika jawaban mereka sama dengan persyaratan cantik yang kini banyak dijadikan pedoman para wanita, maka sudah saatnya syarat menjadi warga Negara Indonesia ditambah satu. Dan RUU kecantikan segera disahkan.
Memang pembicaraan saya ini kacau, kalau ada seorang pengamat dan penulis yang membaca ini, saya yakin, pasti saya langsung ditendang dengan kata-kata pedasmereka. Pasti saya dibilang sok kritis, sok mengkritik , ikut-ikutan bikin perkara. Tapi saya tidak akan mendengarkan, karena saat ini saya sedang menyuarakan suara hati saya yang kacau, dan tuntutan otak saya yang sedikit bergeser. Benar- benar saya ingin, cantik disamakan dengan kejujuran. Nilailah kecantikan seorang wanita dengan jujur, lihatlah dengan ata hati, dan rasakan dengan pikiran sehat, yang tentu bukan nafsu memiliki, tapi mengagumi. Oh iya, saya menulis ini bukan karena saya tidak cantik, tapi saya punya alasan lain.
Ayolah… Saya tidak suka jika citra wanita seperti ini 

Galau-gila,7/23/2011
12.13 pm

Sabtu, 11 Juni 2011

GURU YANG BERKARAKTER KUAT DAN CERDAS

Secara pengertian awam, guru adalah orang-orang yang menggunakan ilmu atau kemampuan yang dimilikinya untuk kemudian ditularkan kepada orang lain. Orang-orang yang menerima ilmu dari guru biasa disebut murid atau siswa. Dalam menularkan ilmunya, seorang guru harus memiliki karakter yang kuat dan cerdas. Menurut saya, guru yang memiliki karakter yang kuat dan cerdas memiliki beberapa daya saing. Yang diantaranya akan saya jabarkan dalam tulisan ini.
Seperti Negara-negara lain, Indonesia sangat memperhatikan pendidikan. Dalam GBHN telah diuraikan tentang tujuan Pendidikan Nasional Indonesia yang diantaranya menyebutkan peningkatan kualitas manusia Indonesia, sejalan dengan itu dikembangkan iklim belajar dan mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri serta sikap dan perilaku yang inovatif dan kreatif. Dengan demikian diperlukan pengajar-pengajar professional yang bertanggung jawab.
Sebagaimana kita tahu, seorang guru itu dianggap serba tahu dalam segala hal oleh masyarakat, untuk itu guru harus selalu menjaga nama baik dan bertanggung jawab. Dengan demikian guru akan lebihmeningktkan daya kerja, cara kerja sehingga pembangunan bangsa melalui pendidikan akan lebih baik lagi. Dengan perkembangan IPTEK seperti sekarang ini, serta kemajuan dan perkembangan yang dialami masyarakat membawa konsekuensi serta persyaratan yang semakin kuat dan kompleks bagi profesi guru.
Profesi sebagai guru adalah suatu jabatan atau pekerjaan. Dalam pengertian profesi telah tersiarat adanya suatu keharusan berkompetensi agar profesi itu berfungsi dengan sebaik-baiknya. Kompettensi yang harus dimiliki oleh seorang guru adalah bagaimana agar pekerjaannya mempunyai fungsi social juga, yaitu pengabdian pada masyarakat. Seorang guru harus menyadari bahwa profesinya tidak hanya berorientasi pada persebaran ilmu pengetahuan saja, tetapi juga akan turut mendukung perkembangan suatu masyarakat. Guru yang dapat menguasai kompetensi ini akan memiliki sebuah karakter yang dapat memudahkan ia diterima dalam masyarakat.
Mengajar adalah tugas utama seorang guru, di samping mendidik. Untuk melaksanakan tugas tersebut, seorang guru harus terampil dan berilmu. Keterampilan dan ilmu dpat diperoleh melalui sekolah pendidikan guru. Salah satu cirri guru yang baik adalah dedikasi tinggi terhadap tugasnya, jadi di samping ia berkarakter kuat juga harus cerdas dalam memberikan problem solving yang dialami anak didiknya. Untuk menunjukkan dedikasinya terhadap dunia pendidikan, seorang guru tidak cukup mengajar secara harfiah dan dengan perasaan saja. Tetapi ia harus cukup mengetahui tentang hakikat manusia, motivasi, iklim psikologis dan emosional penghuni kelas, yang kesemuanya akan menunjang keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru yang berkarakter harus mengetahui hal-hal tersebut. Kemudian dengan karakter khas yang ia miliki ia akan mengendalikan kelas tersebut melalui kegiatan-kegiatan inovatif yang dirancang secara cerdas untuk memberikan stimulus pada siswa.
Mengenai hal yang saya sebutkan di atas, guru harus memiliki profesionalitas sendiri. Guru professional memiliki keterampilan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang awam. Dengan ini guru dapat melaksanakan fungsi khususnya yaitu membuat keputusan dan melaksanakannya dalam membelajari peserta didik dengan hasil yang efektif dan efisien.
Untuk memenuhi semua standar guru yang saya sebutkan, maka dalam pekerjaannya guru harus memiliki kode etik. Kode etik adalah kumpulan peraturan atau norma. Etika berarti juga tata karma. Dan kode etik guru yang yang memiliki karakter yang kuat adalah dapat memberikan suatu pelayanan yang khas, memiliki suatu kode etik yang jelas, dan lebih mementingkan pelayanan kemanusiaan. Sedangkan kode etik sebagai guru yang cerdas adalah memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus, dapat menciptakan tata aktivitas intelektual yang menarik, memiliki kualifikasi tertentu sebagai guru, dan cara mengajar yang fleksibel sesuai kondisi kelas.